Kamis, 22 November 2012

aguste comte

   Riwayat Hidup Comte
August Comte atau juga Aguste Comte(nama panjangnya Isidore Marie Auguste François Xavier Comte) lahir di Montpellier, Prancis. Keluarganya beragama Katolik dan berdarah bangsawan, tetapi Comte tidak memperlihatkan loyalitasnya. Dia mendapat pendidikan di Ecole Polytechnique di Paris dan lama hidup disana, di mana ia mengalami suasana pergolakan sosial, intelektual, dan politik. Comte seorang mahasiswa yang keras kepala dan suka memberontak, yang meninggalkan Ecole sesudah seorang mahasiswa yang memberontak napoleon dipecat.
Comte memulai karir profesionalnya dengan memberi les dalam bidang matematika. Meskipun ia sudah memperoleh pendidikan dalam matematika, perhatiannya sebenarnya adalah pada masalah-masalah kemanusiaan dan sosial. minat ini mulai berkembang di bawah pengaruh Saint Simon, yang memperkerjakan Comte sebagai sekretarisnya dan dengannya Comte menjalin kerjasama erat dalam mengembangkan karyanya sendiri. Kepribadian kedua orang ini saling melengkapi: Saint Simon seoreng yang tekun, arif, bersemangat, dan tidak disiplin, sedangkan Comte seorang yang metodis, disiplin, dan refleksif. Tetapi sesudah tujuh tahun, pasangan ini pecah karena perdebatan mengenai kepengarangan karya bersama, dan Comte lalu menolak pembimbingnya ini.
Karya Comte pada awal mula di bawah asuhan Saint Simon kelihatan sangat meyakinkan, dia memiliki kecemerlangan intelektual dan ketekunan untuk membuat dirinya sebagai seorang tokoh yang terpandang di kalangan intelektual Prancis. Sesudah hubungannya dengan Saint Simon retak, dia tetap sebagai orang luar akademi. Sebagian hal ini mungkin disebabkan sifat-sifat tertetu kepribadiannya, dia menderita gejala paranoid yang berat. Kadang-kadang kegilaannya itu diarahkan kepada teman-teman dan lawan-lawannya secara kasar. Diapun pernah dimasukkan ke rumah sakit karena menderita penyakit keranjingan (mania), dan setelah ia pulang dari rumah sakit  dia mencoba membuang diri ke sungai Seine, tetapi ia gagal merenggut nyawanya sendiri. Perasaannya juga pada saat itu sangat remuk redam pula.
Kondisi ekonomi Comte jugapas-pasan, dan hidup miskin. di akhir hayatnya, dia hidup dari pemberian orang-orang yang mengaguminya dan pengikut-pengikut agama humanitasnya.
Pergaulan Comte dengan gadis-gadis juga mendatangkan malapetaka, tetapi relevan untuk memahami evolusi dalam pemikiran Comte, khususnya perubahan dalam tekanan tahap-tahap akhir kehidupannya dari positivisme. Sementara Comte sudah mengembangkan filsafat positivismenya yang komprehensif, dia menikah dengan bekas pelacur bernama Caroline Massin, seorang yang lama menderita, yang menanggung beban emosional dan ekonomi dengan Comte. Sesudah Comte keluar dari rumah sakit, dengan sabar istrinya berusaha memenuhi kebutuhan Comte, dan merawatnya sampai sembuh meskipun tanpa penghargaan Comte serta kadang-kadang disertai perlakuan yang kasar. setelah berpisah sekian lamanya, istrinya pergi dan membiarkan dia sengsara dan gila.
Tahun 1844, dua tahun setelah  ia menyelesaikan enam jilid karyanya yang berjudul Course of Positive Philosophy, Comte bertemu dengan Clothilde de Vaux, seorang ibu yang mengubah kehidupan Comte. Dia lebih muda dari Comte, dia sedang ditinggal suaminya ketika bertemu dengan Comte. Clothilde de Vaux tidak terlalu meluap-luap seperti Comte. Walau sering berkirim surat cinta beberapa kali, Clothilde menganggap hubungan itu hanya sekedar persaudaraan saja. Romantika mereka tidak berlangsung lama, Clothilde mengidap penyakit TBC dan hanya beberapa bulan sesudah bertemu dengan Comte, dia meninggal dunia. Kehidupan Comte lalu tergoncang, dia bersumpah untuk membaktikan hidupnya untuk mengenang bidadarinya itu.
Sifat tulisan Comte umumnya berubah drastis setelah bertemu dengan Clothilde. Dia juga sudah memulai karya bagian keduanya yaitu System of Positive Politics yang merupakan suatu pernyataan menyeluruh mengenai strategi pelaksanaan praktis pemikirannya mengenai filsafat positif yang dikemukakannya sebelumnya. Namun, karya keduanya ini menjadi suatu bentuk perayaan cinta, tetapi dengan keinginan besar yang sama yakni membangun sistem menyeluruh, seperti dalam karyanya yang lebih dahulu.
Karena dimaksudkan untuk mengenang bidadarinya itu, karya Comte dalam politik positif itu didasari oleh gagasan bahwa kekuatan yang sebenarnya mendorong orang dalam kehidupannya adalah perasaan, bukan pertumbuhan intelegensi manusia yangmantap. Tujuannya adalah untuk mengembangkan  suatu agama baru, agama humanitas yang merupakan sumber-sumber utama bagi perasaan-perasaan manusia serta mengubahnya dari cinta diri dan egoism menjadi altruisme dan cinta tetapi sekaligus tidak akan membenarkan secara intelektual ajaran-ajaran agama tradisional yang bersifat supernaturalistik. Dengan kata lain, agama humanitas harus sesuai dengan standar-standar intelektual serta persyaratan positivism.
Perubahan dalam tulisan Comte membingungkan beberapa pengagumnya, perasaan dan cinta yang merugikan akal budi merupakan peenyangkalan terhadap gagasan-gagasan positivis yang disanjung-sanjungnya dalam bukunya, serta kepercayaan akan kemajuan yang mantap dari pikiran manusia, dengan janji untuk suatu masyarakat yang lebih cerah di masa yang akan datang.
Comte menjadi sedemikian otoriternya, sehingga kelihatannya ia tidak dapat membayangkan suatu masyarakat positivis yang cerah akan muncul tanpa dia. Untuk mengimbangi berkurangnya dukungan intelektual dari para pengagumnya, akhirnya dia beralih ke masyarakat luas dan pelbagai pimpinan politik. Dia kemudian menulis buku berjudul Positivist Catechism untuk wanita dan pekerja, dan sebuah lagi berjudul Appeal to Conservatives untuk pemimpin-pemimpin politik. Comte berharap nbahwa ahli sosiologi lainnya akan mengikuti bimbingannya dengan berperan sebagai penjaga-penjaga moral dan imam-imam, dengan memberikan pengarahan pada pemimpin-pemimpin industri, serta meningkatkan rasa keterarahan kepadayang lain dan penyaturasaan dengan humanitas. Inilah gagasan Comte di tahun 1857 pada saat dia mendapat serangan kanker dan meninggal.
Untuk mengerti tempat Comte dalam sejarah pemikiran dan berdirinya disiplin sosiologi, perlu memahami suasana soial dan politik di tahun-tahun sesudah Revolusi Prancis. Banyak kaum intelektual yang mewarisi kepercayaan akan akal budi serta kemajuan di masa pencerahan abad ke-18 yang optimis, khususnya dimasa awal revolusi itu. Pergolakan serta kehancuran yang ditimbulkan revolusi itu hanyalah awal dari suatu masyarakat baru yang akan didasarkan pada prinsip-prinsip hokum alam mengenai persamaan dan kebebasan.
Sumbangan kreatif yang khas dari Comte terhadap sosiologi dilihat Martindale sebagai dua prespektif yang saling bertentangan mengenai keteraturan social: positivisme dan oraganisme.
   Hukum Tiga Tahap
Hukum tiga tahap merupakan usaha Comte untuk menjelaskan kemajuan evolusioner umat manusia dari primitive sampai ke peradaban Prancis abad kesembilan belas yang sangat maju. Hukum ini, yang  mungkin paling terkenal dari gagasan-gagasan teoritis pokok Comte, tidak lagi diterima sebagai suatu penjelasan mengenai perubahan sejarah secara memadai. Juga terlalu luas dan umum sehinggatidak dapat benar-benar tunduk pada pengujian empiris secara teliti, yang menurut Comte harus ada untuk membentuk hukum-hukum sosiologi.
Hukum tiga tahap ini menyatakan bahwa masyarakat-masyarakat(atau umat manusia) berkembang melalui tiga tahap utama, yaitu:
1.      Tahap teologis
Merupakan periode yang paling lama dalam sejarah manusia, dan untuk analisa yang lebih terperinci, Comte mebaginya ke dalam periode fetisisme, politeisme, dan monoteisme.
2.      Tahap metafisik
Merupakan tahap transisi antara tahap teologis dan positif. Tahap ini ditandai oleh suatu kepercayaan akan hukum-hukum alam yang asasi yang dapat ditemukan oleh akal budi.
3.      Tahap positif
Ditandai oleh kepercayaan akan data empiris sebagai sumber pengetahuan terakhir

Tidak ada komentar:

Posting Komentar